Ancaman Media Sosial Jadi Peringatan bagi Sepak Bola Indonesia
Pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta selalu sarat emosi, baik di dalam maupun luar lapangan. Dibawah ini akan ada penjelasan tentang berita bola menarik lainnya di LIGA 1 INDONESIA.

Pada pekan ke-17 BRI Super League 2025/2026, atmosfer panas kembali terasa saat Persib menang tipis 1-0 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Sayangnya, tensi tinggi itu merembet ke media sosial.
Gelandang Persib sekaligus pemain Timnas Indonesia, Thom Haye, menjadi sasaran ancaman serius setelah pertandingan tersebut. Pesan-pesan bernada kekerasan bahkan menyasar keluarganya. Situasi ini langsung menuai perhatian luas karena menyentuh aspek keselamatan pribadi.
Kabar Gembira bagi pecinta bola, khususnya Timnas Garuda. Ingin tau jadwal timnas dan live streaming pertandingan timnas? Segera download!
Ancaman tersebut menegaskan bahwa rivalitas sepak bola telah melewati batas wajar. Apa yang seharusnya menjadi hiburan dan kebanggaan justru berubah menjadi ruang kebencian yang berbahaya.
Sikap Tegas Ketua The Jakmania
Ketua The Jakmania, Diky Soemarno, dengan tegas menyuarakan keprihatinannya. Ia menekankan bahwa kasus yang menimpa Thom Haye bukanlah kejadian tunggal. Banyak pemain lain di Liga Indonesia pernah mengalami perlakuan serupa di media sosial.
Menurut Diky, persoalan ini tidak bisa semata-mata dibebankan pada sepak bola atau rivalitas suporter. Ia menyebut rendahnya literasi digital dan budaya bermedia sosial menjadi akar utama masalah.
Ketika emosi tidak terkendali, media sosial menjadi ruang pelampiasan tanpa batas. Diky juga mengingatkan bahwa pemain, siapa pun klubnya, tetap manusia. Prestasi di lapangan seharusnya dinilai secara objektif, bukan dibalas dengan ancaman atau ujaran kebencian.
Baca Juga: Persib Bandung Bangkit dari Awal Musim yang Goyah hingga Jadi Juara Paruh Musim
Lemahnya Pengawasan dan Penegakan Hukum

Selain aspek budaya, Diky menyoroti lemahnya pengawasan di media sosial. Ia menilai ancaman dan ujaran kebencian seharusnya langsung ditindak sesuai hukum yang berlaku. Tanpa penegakan tegas, pelaku akan merasa aman dan mengulangi perbuatannya. Ia menegaskan bahwa efek jera sangat penting.
Ketika hukum hadir secara nyata, ruang digital bisa menjadi lebih sehat. Tanpa itu, kasus serupa akan terus berulang, bukan hanya di sepak bola, tetapi di berbagai bidang kehidupan. Masalah ini, menurut Diky, adalah persoalan bangsa. Media sosial yang tidak diawasi dengan baik menciptakan ilusi kebebasan tanpa tanggung jawab, sesuatu yang berbahaya bagi kohesi sosial.
Harapan untuk Sepak Bola yang Lebih Dewasa
Diky berharap masyarakat, khususnya pengguna media sosial, bisa bersikap lebih dewasa. Kritik boleh disampaikan, tetapi harus tetap dalam batas etika dan kemanusiaan. Sepak bola tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan verbal.
Ia juga mengajak publik untuk memberi apresiasi kepada pemain yang tampil baik, termasuk Thom Haye. Terlepas dari rivalitas Persib dan Persija, kontribusi pemain untuk klub dan tim nasional patut dihargai.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan kedewasaan kolektif. Jika ruang digital bisa dikelola dengan lebih bijak, maka sepak bola tidak hanya menjadi ajang persaingan, tetapi juga pemersatu bangsa. Manfaatkan waktu luang Anda untuk mengeksplor berita bola menarik lainnya di liga1indonesia.id.